Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Bawah Terik Cuaca Ekstrem, Ketika Listrik dan AC Menjadi Ukuran Rentannya Kesejahteraan Masyarakat


NEGERI PANAS EKSTREM — Fenomena gelombang suhu panas dan cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah Indonesia belakangan ini tidak hanya memicu persoalan kesehatan, tetapi juga menguji daya tahan ekonomi warga. Bagi kelas menengah ke bawah, bertahan di tengah udara panas bukan sekadar urusan kenyamanan, melainkan pertaruhan tata kelola keuangan rumah tangga yang serba ketat.

​Di saat kelompok masyarakat berkecukupan dengan mudah memasang air conditioner (AC) untuk meredam suhu tinggi, sebagian besar keluarga rentan terpaksa bergantung pada kipas angin tua yang terus berputar tanpa henti. Ketidakmampuan membeli dan mengoperasikan perangkat pendingin udara menjadi potret nyata bahwa kesejahteraan permanen belum sepenuhnya terwujud di level tapak.

​Dilema Pengeluaran, Antara Dapur dan Listrik, ​Meskipun pemerintah memastikan tarif tenaga listrik PT PLN (Persero) tidak mengalami kenaikan pada periode Triwulan III 2026, yakni Rp1.352 per kWh untuk daya 900 VA RTM dan Rp1.444,7 per kWh untuk daya 1.300 VA, beban tagihan tetap terasa menghimpit. Dalam kondisi cuaca ekstrem, penggunaan alat elektronik rumah tangga seperti kipas angin, lemari es, hingga pompa air meningkat drastis.  

​Bagi keluarga penerima upah minimum atau pekerja sektor informal, penambahan pengeluaran token listrik sebesar Rp50.000 hingga Rp100.000 per bulan akibat cuaca panas berdampak langsung pada porsi belanja kebutuhan pokok lainnya.

​"Kalau mau beli AC, harga unitnya saja sudah menguras gaji sebulan. Belum lagi biaya tambah daya listrik dan tagihan bulanannya. Akhirnya cuma bisa pakai kipas angin, itu pun token cepat habis karena dinyalakan siang-malam," 

​Ketimpangan Adaptasi Iklim
​Pengamat ekonomi sosial menilai fenomena ini sebagai bentuk climate vulnerability atau kerentanan terhadap perubahan iklim yang timpang. Masyarakat ekonomi menengah ke bawah kerap menjadi pihak yang paling terdampak oleh perubahan iklim global karena keterbatasan modal finansial untuk melakukan adaptasi.

​Ketidakmampuan melengkapi rumah dengan perangkat penyejuk udara yang efisien menunjukkan bahwa tingkat pendapatan masyarakat masih berada di batas rentan (vulnerable). Ketika terjadi lonjakan kebutuhan akibat faktor eksternal, seperti gelombang panas atau lonjakan harga pangan, struktur keuangan rumah tangga langsung goyah.

​Sinyal Kesejahteraan yang Belum Permanen, ​Kesejahteraan sejati tak hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar makan dan pakaian, tetapi juga mencakup ketahanan terhadap dinamika lingkungan dan akses terhadap kenyamanan hidup yang layak.

​Fenomena ini menjadi alarm penting bagi pemangku kebijakan. Program pengentasan kemiskinan dan peningkatan daya beli dinilai perlu mengintegrasikan faktor ketahanan iklim, baik melalui penyediaan hunian ramah lingkungan berbasis ventilasi alami, subsidi energi yang tepat sasaran, maupun dorongan insentif untuk alat elektronik hemat energi yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.

Penulis: Nurdin