Air Mata di Balik Rahasia N : Kasih Ibu Angkat dan Nestapa di Sekolah Luar Biasa
MUARO JAMBI, ceriapost.com — Tatapan mata perempuan itu kosong, berkaca-kaca menahan bendung air mata yang nyaris tumpah. Di ruang tamu rumahnya yang bersahaja, ia berkali-kali menghela napas panjang. Setiap kali nama "N" disebut, dadanya sesak. N adalah separuh jiwanya, anak perempuan yang ia rawat dengan seluruh cinta, yang kini harus menanggung trauma mendalam, takut untuk datang ke sekolah itu lagi, Minggu (21/6/2026).
N, seorang siswi Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Muaro Jambi, diduga menjadi korban pelecehan seksual. Ironisnya, pelaku diduga kuat adalah oknum penjaga sekolah sekaligus pemilik kantin, sosok yang selama ini justru paling dipercaya oleh sang ibu untuk menjaga putrinya.
Ditemukan di Persimpangan Jalan, Awal Sebuah Ikatan Suci :
Bagi sang ibu, N bukanlah sekadar anak angkat. Hubungan mereka melampaui ikatan darah. Sambil menyeka sudut matanya, ia mengenang kembali memori belasan tahun lalu, saat takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah yang pilu namun penuh keajaiban.
Kisah itu bermula di sebuah persimpangan jalan di wilayah Desa Bukit Baling, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi. Di sana, di tengah kepasrahan, seorang bayi mungil ditinggalkan begitu saja oleh orang tua kandungnya, dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, memantik rasa iba bagi siapa saja yang melihatnya.
"Waktu itu orang tua saya yang menemukan N. Beliau menyarankan agar saya mengambil dan mengasuhnya seperti anak kandung sendiri," kenang sang ibu dengan suara bergetar.
Melihat kondisi bayi yang lemah dengan tatapan mata yang seolah meminta belas kasih, yang seolah menyayat hatinya. Tanpa ragu, ia membawa bayi suci itu pulang, memandikannya dengan penuh kasih sayang, dan berjanji dalam hati untuk membesarkannya dengan seluruh jiwa. Sejak hari itu, N resmi menjadi napas dan kebahagiaan di rumah mereka.
Tumbuh dalam Keterbatasan dan Kesantunan
Seiring waktu berjalan, sang ibu menyadari ada yang berbeda dari tumbuh kembang N. Menginjak usia 7 tahun, N belum mampu berbicara dengan lancar layaknya anak-anak sebayanya. Keterbatasan fisik dan bicaranya membuat N sempat ditolak saat hendak mendaftar di sekolah umum.
Tak putus asa demi masa depan sang anak, kedua orang tuanya berinisiatif mendaftarkan N ke SLBN Muaro Jambi yang terletak di komplek perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Muaro Jambi. Di sekolah khusus inilah, N diharapkan mendapat pendidikan yang layak.
Di mata ibunya, N adalah sosok anak yang luar biasa. Meski memiliki keterbatasan, ia tumbuh menjadi anak yang rajin, pendiam, dan sangat santun.
Rajin dan Ringan Tangan, Jika diminta membereskan rumah, N selalu mengerjakannya hingga bersih dan rapi tanpa pernah mengeluh.
Sangat Santun, N memiliki kebiasaan yang menyentuh hati, setiap kali hendak menyantap makanan di rumah, ia selalu bertanya dengan bahasa isyarat atau terbata-bata, memastikan apakah makanan tersebut boleh ia makan atau tidak.
Pengkhianatan Sebuah Kepercayaan
Namun, kesantunan dan kepolosan N justru dimanfaatkan oleh jiwa yang culas. Badai itu datang tanpa diduga, merenggut keceriaan dari wajah N. Orang yang selama ini dipercaya keluarga untuk menjaga N di sekolah, justru diduga menjadi predator yang menyakiti hati dan perasaan.
Setiap minggu, sang ibu selalu menitipkan uang jajan N kepada pemilik kantin yang juga merangkap sebagai penjaga sekolah tersebut. Harapannya sederhana, agar N tidak telantar dan ada orang dewasa yang mengawasinya selama di lingkungan sekolah.
"Saya tidak menyangka, sama sekali tidak menyangka. Orang yang setiap minggu saya titipi uang jajan untuk N, orang yang saya percaya penuh, tega berbuat sekeji itu kepada anak saya," ucapnya, runtuh dalam tangis yang tak lagi bisa ditahan.
Kini, kisah N bukan lagi sekadar cerita tentang seorang anak yang dibuang lalu diselamatkan oleh kasih ibu. Ini adalah cerita tentang perjuangan mencari keadilan di tengah keterbatasan.
Pihak keluarga berharap aparat penegak hukum dapat bertindak tegas mengusut tuntas kasus ini, demi memulihkan keadilan bagi N, bunga rapuh yang semacam sengaja dilecehkan tanpa hati nurani oleh oknum pelaku. (Red)