Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah Tak Ada Lagi Produk untuk Dipamerkan? Traktor Dinas Pertanian Muaro Jambi “Nangkring” di Stand Bazar HUT ke-27 Disorot

MUARO JAMBI — Perayaan Hari Jadi (HUT) Kabupaten Muaro Jambi yang ke-27 tahun ini diwarnai tanda tanya besar dari masyarakat. Pasalnya, alih-alih menampilkan produk unggulan hasil pertanian lokal, stand bazar milik Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) justru memajang dua unit traktor roda empat berukuran besar sebagai tontonan di arena pameran.  

Keberadaan alat dan mesin pertanian (alsintan) berstatus aset inventaris negara atau daerah tersebut sontak memantik sorotan tajam. Sejumlah kalangan menilai pemandangan ini sangat kontradiktif dan memunculkan polemik di tengah masyarakat.

Apakah instansi terkait sudah kehabisan ide hingga tak ada lagi produk atau inovasi pertanian warga yang layak dipamerkan?

Berdasarkan pantauan di lokasi pameran, dua unit traktor modern yang seharusnya menjadi ujung tombak untuk menggenjot produktivitas serta mempercepat pengolahan lahan kelompok tani (poktan) di lapangan, justru tampak terparkir manis layaknya barang pajangan showroom komersial di dalam stand.  

"Sangat disayangkan. Apakah di Muaro Jambi ini sudah tidak ada lagi produk holtikultura, beras lokal, atau inovasi petani yang bisa dipamerkan untuk mengangkat potensi daerah? Kok malah traktor dinas yang diboyong ke arena bazar jadi hiasan. Ini kan alat untuk mengolah tanah petani, bukan untuk dipamerkan di panggung hiburan," kritik salah seorang pengunjung yang juga pemerhati kebijakan publik di Muaro Jambi.

Publik menilai, langkah instansi memboyong alsintan ke arena pameran seremonial menunjukkan rendahnya peka rasa terhadap kondisi di akar rumput. Di saat bersamaan, banyak petani di berbagai sentra pertanian di wilayah Kabupaten Muaro Jambi, seperti di Sungai Gelam, Kumpeh, hingga Jambi Luar Kota, kerap mengeluhkan keterbatasan akses alat berat saat musim tanam tiba.

Ketika petani berjibaku dengan minimnya sarana prasarana penunjang olah lahan, fasilitas negara yang dibiayai dari uang rakyat justru terlihat "nangkring" di lokasi bazar untuk sekadar meramaikan suasana pameran. Hal ini memunculkan dugaan adanya pergeseran fungsi aset atau bahkan pemborosan pemanfaatan fasilitas operasional kedinasan.

Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya meminta klarifikasi resmi dari Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Kabupaten Muaro Jambi. Konfirmasi diperlukan guna menjelaskan dasar kebijakan serta urgensi di balik keputusan memajang traktor dinas di stand pameran, sekaligus menjawab keraguan publik terkait minimnya kreativitas menampilkan produk asli hasil bumi petani Muaro Jambi.

Masyarakat dan para petani berharap agar ke depannya instansi pemerintah daerah lebih bijak dalam memanfaatkan aset negara, serta benar-benar mendedikasikan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan dan kesejahteraan petani di bumi Sailun Salimbai, bukan sekadar menjadi pemanis pameran seremonial semata. ***