Wajah Muram Sengeti: Potret Ibukota Muaro Jambi yang Terjebak dalam Keterbelakangan Infrastruktur
SENGETI – Sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Muaro Jambi, seharusnya Sengeti memancarkan aura kemajuan dan tata kota yang representatif. Namun, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Kota ini tampak "mati suri", terjebak dalam kesan suram akibat minimnya sentuhan pembangunan infrastruktur yang memadai.
Kesan kumuh paling kentara terlihat di sepanjang jalur dua jalan lintas utama Sengeti. Meski arus lalu lintas tergolong padat, tatanan jalan tersebut jauh dari standar kelayakan infrastruktur perkotaan.
Minim Drainase, Estetika Terabaikan
Salah satu permasalahan krusial yang mengemuka adalah ketiadaan sistem drainase yang baik di sepanjang jalur dua tersebut. Meskipun saat ini tidak terlihat adanya genangan air yang mengganggu pengguna jalan, namun secara teknis, keberadaan drainase merupakan elemen vital bagi sebuah infrastruktur jalan.
Sesuai dengan pedoman mekanisme Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), drainase adalah pendukung utama untuk memastikan umur pakai jalan dan aspek sanitasi lingkungan.
Tanpa drainase yang berfungsi, jalur tersebut kehilangan standar fungsionalnya. Aliran air yang tidak terkelola dengan baik dari badan jalan justru menciptakan kesan lingkungan yang tidak terawat dan semrawut.
Jalan Tanpa Identitas Perkotaan
Lebih jauh, kondisi jalur dua Sengeti terasa "telanjang" karena tidak adanya trotoar serta bahu jalan yang memadai. Kondisi ini membuat tatanan jalan tampak tidak lengkap dan tidak ramah bagi pejalan kaki. Bagi sebuah ibukota kabupaten, absennya fasilitas pedestrian menunjukkan lemahnya perencanaan tata ruang yang mengedepankan kenyamanan publik.
Kota ini seperti tidak punya jati diri. Jalanan lebar hanya menjadi lintasan kendaraan, tanpa ada sentuhan estetika atau fasilitas penunjang yang menunjukkan bahwa ini adalah pusat pemerintahan.
Jauh dari Kata Layak
Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat terkait arah pembangunan daerah. Sengeti, yang seharusnya menjadi etalase keberhasilan pembangunan di Muaro Jambi, kini justru dinilai jauh dari kata layak. Minimnya inovasi pembangunan infrastruktur membuat kota ini terjebak dalam atmosfer yang suram.
Ketimpangan pembangunan ini menjadi sorotan tajam bagi pemerintah daerah. Tanpa ada upaya perbaikan yang signifikan, Sengeti dikhawatirkan akan terus tertinggal di tengah derap pembangunan kabupaten lain yang terus berbenah mempercantik wajah ibukotanya.
Masyarakat berharap, pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perencanaan pembangunan di pusat ibukota. Sengeti membutuhkan perhatian serius agar tidak sekadar menjadi tempat persinggahan administratif, melainkan tumbuh menjadi kota yang layak huni, tertata, dan memiliki daya tarik sebagai jantung Kabupaten Muaro Jambi. (**)